Kamis, 11 Desember 2014

Cahaya dan Bayangan

1.Satu

Hujan kembali menghancurkan semua rencana besarku, sekarang aku hanya bisa duduk melamun di temani Kentang kucing peliharaanku, Oh ia aku Rizkia Solehah yang biasa di pangil Kia oleh semua yang mengenalku, aku anak tunggal persilangan antara ibuku Bu.Indah yang berkebangsaan sunda dengan ayahku Pak.Dani seorang perantau dari padang artinya aku belasteran, harusnya sekarang aku bersepeda tapi di hadang hujan yang turun secara ajaib dari langit yang beberapa menit sebelumnya berwarna biru tanpa awan.

Kali ini hanya secangkir teh melati yang mampu menenagkan hati ku yang kacau akibat hujan, aku duduk di kursi kayu dengan jaket ungu sambil bengong menatap keluar jendela menunggu hujan untuk berhenti, sempat terlintas di pikiranku yang sekarang kosong untuk keluar bersepeda di iringi hujan tapi badanku mudah sekali sakit jadi rencana aneh itu pun harus di batalkan.

"Kie cik atuh tong cicing wae bantuan ibu!"(Kie jangan diam terus tolong bantu ibu) teriak ibuku dalam bahasa sunda dengan logat aneh mungkin karna biasanya ibuku mengunakan basa indonesia tapi dalam keadaan marah tiba-tiba muncul rasa cinta bahasa daerah dalam jiwa ibu-ibunya yang membuatnya mengunakan bahasa sunda.

"Iya Bu, kie bantu" Jawabku tanpa energi, aku berdiri lalu pergi dari kursi kayu di dekat jendela meningalkan kentang yang masih terlelap di dekat kursi.

Hujan berhenti setelah aku berdiri dari kursi kayu mungkin ini yang namanya keajaiban, aku langsung membuka pintu jati yang di cat coklat dengan cepat aku langsung menyambar sepeda merah yang sudah lumayan usang lalu mengayuhnya menjauhi rumah, setelah beberapa menit aku mulai terbayang amukan ibuku nanti sepulanya aku bermain.

But aku ingin menikmati hariku, kalau bukan sekarang kapan lagi...

---000---